Drone yang dilengkapi kamera thermal dapat membantu tim SAR melihat perbedaan suhu dari udara dan mencari tanda keberadaan manusia lebih cepat.

Kamera thermal membaca radiasi panas yang dipancarkan oleh objek.
Tubuh manusia biasanya memiliki suhu yang berbeda dibandingkan lingkungan di sekitarnya. Perbedaan ini dapat terlihat sebagai pola panas pada layar thermal. Teknologi thermal dapat membantu pencarian korban terutama pada malam hari, area terbuka, atau lokasi yang sulit dijangkau.
NASA melalui konsep Search Technology for Optimal Rescue Missions (STORM) membahas penggunaan drone dengan kamera thermal dan LiDAR untuk membantu menemukan serta menentukan lokasi korban dalam kondisi lingkungan yang sulit.

Salah satu keuntungan utama kamera thermal adalah kemampuannya bekerja berdasarkan perbedaan panas, bukan hanya cahaya yang terlihat.
Artinya, pencarian masih dapat dilakukan ketika kondisi sudah gelap.
Dalam operasi SAR, hal ini dapat membantu memperluas waktu pencarian dan memberikan informasi tambahan kepada tim lapangan.

Drone dapat diterbangkan ke lokasi yang sulit dijangkau manusia dalam waktu singkat. Contohnya seperti hutan, lereng, daerah bencana, atau area yang memiliki risiko bagi petugas. Walaupun sangat membantu, kamera thermal memiliki keterbatasan.

Vegetasi yang sangat rapat, bangunan, permukaan tertentu, cuaca, serta perbedaan suhu lingkungan dapat membuat tanda panas lebih sulit terlihat.
Karena itu, hasil thermal sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar. Informasinya perlu dikombinasikan dengan kamera biasa, posisi lokasi, informasi dari tim darat, dan metode pencarian lainnya.
Teknologi drone berfungsi sebagai alat bantu bagi tim SAR, bukan pengganti proses pencarian dan keputusan petugas di lapangan.

Selain mencari tanda panas tubuh, drone dapat memberikan gambaran kondisi lokasi secara langsung. Tim dapat melihat jalur masuk, medan, kondisi korban, hambatan, maupun kemungkinan risiko sebelum personel bergerak menuju lokasi. Hal ini membantu meningkatkan situational awareness, sehingga sumber daya SAR dapat digunakan dengan lebih terarah.

Drone thermal dapat menjadi alat bantu yang sangat berguna dalam operasi SAR. Teknologi ini dapat membantu mendeteksi tanda panas, melakukan pencarian pada malam hari, menjangkau area sulit, serta memberikan informasi kondisi lapangan kepada tim penyelamat.
Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi lingkungan, kemampuan operator, koordinasi tim, dan penggunaan metode pencarian lainnya.

Mengoperasikan drone thermal dalam operasi SAR tidak hanya membutuhkan kemampuan menerbangkan drone. Pilot juga perlu memahami pembacaan citra thermal, pola pencarian, komunikasi dengan tim, kondisi cuaca, manajemen baterai, hingga prosedur keselamatan. Kemampuan seperti ini dapat mulai dipelajari melalui Indonesia Drone Training Center, sehingga peserta tidak hanya memahami cara menerbangkan drone, tetapi juga bagaimana teknologi udara dapat digunakan untuk mendukung operasi pencarian dan keadaan darurat.