NASA menjelaskan DAA sebagai kemampuan sebuah pesawat untuk mengetahui ketika posisinya mulai terlalu dekat dengan objek lain, kemudian mengambil tindakan yang sesuai untuk menjaga jarak aman.

Sistem DAA dapat menggunakan sensor seperti radar, kamera, atau data posisi dari sistem lain untuk mengetahui keberadaan pesawat atau objek di sekitar drone. Informasi tersebut kemudian diproses untuk melihat apakah jalur penerbangan berpotensi terlalu dekat dengan objek lain. Jika risiko terdeteksi, sistem dapat memberikan peringatan kepada pilot atau membantu memberikan panduan untuk mengubah arah, ketinggian, atau jalur penerbangan. Perangkat lunak yang dapat menghitung apakah dua pesawat masih berada dalam jarak aman dan memprediksi kemungkinan terjadinya pelanggaran jarak aman dalam beberapa waktu ke depan.

Pada penerbangan biasa, pilot pesawat menggunakan prinsip see and avoid, yaitu melihat pesawat lain dan menghindarinya jika diperlukan. Pada drone, terutama ketika pilot tidak berada di dalam pesawat, kemampuan tersebut menjadi lebih menantang. FAA menjelaskan bahwa sistem UAS perlu memiliki cara untuk menjaga jarak aman dari pesawat lain. Teknologi Detect and Avoid menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk mendukung kemampuan tersebut, terutama pada operasi yang lebih kompleks.

DAA semakin penting untuk penerbangan Beyond Visual Line of Sight (BVLOS), yaitu ketika drone terbang di luar jangkauan pandangan langsung pilot. Dalam kondisi tersebut, pilot tidak selalu dapat melihat secara langsung pesawat lain yang berada di sekitar drone. Sistem DAA dapat membantu memberikan situational awareness tambahan mengenai lalu lintas udara. DAA sebaiknya tidak disamakan begitu saja dengan sensor penghindar objek pada drone. Sensor hambatan biasanya digunakan untuk mendeteksi objek di sekitar, seperti pohon, bangunan, atau struktur lain. Sementara Detect and Avoid dalam konteks penerbangan memiliki cakupan lebih luas, terutama untuk membantu menjaga jarak aman dari pesawat lain di ruang udara, karena itu DAA berkaitan erat dengan integrasi drone ke dalam sistem penerbangan yang lebih luas.

Walaupun DAA dapat meningkatkan keselamatan, teknologi ini tidak berarti drone dapat terbang tanpa perencanaan. Kinerja sistem tetap dipengaruhi oleh kemampuan sensor, kualitas data, lingkungan, jarak deteksi, dan algoritma yang digunakan. Pilot tetap perlu memahami ruang udara, prosedur penerbangan, kondisi lingkungan, serta tindakan yang harus dilakukan jika sistem tidak bekerja sesuai rencana.

Detect and Avoid adalah teknologi yang membantu drone mendeteksi potensi konflik dengan pesawat atau objek lain dan mendukung tindakan untuk menjaga jarak aman. Teknologi ini menjadi semakin penting untuk operasi drone yang lebih kompleks, termasuk BVLOS dan integrasi drone dengan ruang udara yang digunakan pesawat lain. Namun, DAA tetap merupakan alat bantu. Perencanaan penerbangan, kemampuan pilot, dan pemahaman terhadap ruang udara tetap memiliki peran penting dalam keselamatan operasi.

Perkembangan Detect and Avoid menunjukkan bahwa kemampuan pilot drone di masa depan tidak hanya berkaitan dengan keterampilan mengendalikan perangkat. Melalui Indonesia Drone Training Center, peserta dapat mempelajari dasar keselamatan penerbangan, navigasi, situational awareness, hingga perkembangan teknologi yang mendukung operasi drone yang semakin kompleks. Pemahaman seperti ini penting agar teknologi otomatis tetap digunakan dengan pengetahuan dan pertimbangan keselamatan yang baik.