Mengenal Flight Geography pada Operasi Drone
Flight geography adalah batas ruang udara yang sudah ditentukan sebagai area tempat drone direncanakan terbang dalam kondisi normal.
Sebelum terbang, pilot perlu tahu dengan jelas di mana drone seharusnya berada. Batas ini membantu pilot mengendalikan ruang operasi dan mengurangi kemungkinan drone bergerak ke area yang tidak direncanakan. Flight geography juga membantu proses perencanaan risiko, terutama untuk operasi yang lebih kompleks seperti pemetaan, inspeksi, atau penerbangan BVLOS.
Flight geography bukan hanya garis dua dimensi pada peta. Konsep ini juga memperhitungkan ketinggian, waktu operasi, posisi drone, dan kemungkinan kesalahan posisi. EASA secara khusus menyebutkan bahwa kesalahan positioning drone juga perlu diperhitungkan ketika menentukan flight geography. Artinya, pilot tidak cukup hanya menentukan “terbang di area ini”, tetapi juga perlu memahami batas vertikal dan kondisi penerbangannya.
Di luar flight geography biasanya terdapat contingency volume. Area ini berfungsi sebagai ruang tambahan ketika drone keluar dari jalur normal akibat kondisi tidak biasa, misalnya kesalahan navigasi atau drone terdorong angin. Jika drone keluar dari flight geography tetapi masih berada di contingency volume, prosedur kontingensi digunakan untuk membawa drone kembali ke area operasi normal.
Karena itu:
Flight Geography = area operasi normal
Contingency Volume = ruang untuk menangani kondisi abnormal
Keduanya bersama-sama membentuk operational volume dalam konsep SORA.
light geography juga tidak sama dengan drone geographical zone atau geo-zone. Geo-zone merupakan wilayah ruang udara yang ditetapkan oleh otoritas, misalnya area yang melarang, membatasi, atau memberikan persyaratan tertentu terhadap penerbangan drone. EASA menjelaskan geo-zone dapat dibuat untuk alasan keselamatan, keamanan, privasi, maupun lingkungan. Sedangkan flight geography ditentukan dalam perencanaan operasi drone itu sendiri.
Jika drone keluar dari batas tersebut, contingency procedure dapat digunakan untuk mengembalikannya sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius. Dengan menentukan flight geography sejak awal, operasi drone dapat menjadi lebih terstruktur, mudah dipantau, dan memiliki batas keselamatan yang lebih jelas.
Melalui Indonesia Drone Training Center, peserta dapat mempelajari perencanaan operasi, ruang udara, risk assessment, flight geography, contingency procedure, hingga berbagai konsep keselamatan yang digunakan dalam operasi drone profesional. Pemahaman ini membantu pilot tidak hanya mengetahui cara menerbangkan drone, tetapi juga memahami di mana drone seharusnya berada selama misi berlangsung.
ARTIKEL LAINNYA
