Sebelum terbang pilot tidak cukup hanya memastikan drone dapat berfungsi. Pilot juga perlu menilai apakah keseluruhan operasi dapat dilakukan dengan aman.

Salah satu bagian penting dalam operational risk adalah ground risk. Risiko ini berkaitan dengan kemungkinan drone menyebabkan cedera atau kerusakan apabila terjadi kegagalan dan drone jatuh ke permukaan.

Tingkat ground risk dapat dipengaruhi oleh kepadatan orang di bawah area operasi, ukuran drone, jenis operasi VLOS atau BVLOS, serta langkah mitigasi yang digunakan. Karena itu, penerbangan di area terbuka yang jauh dari manusia memiliki karakter risiko yang berbeda dengan penerbangan di kawasan padat.

Selain risiko di darat, pilot perlu mempertimbangkan air risk, yaitu kemungkinan drone bertemu atau berkonflik dengan pesawat lain. Penilaian air risk mempertimbangkan kemungkinan adanya pesawat berawak di ruang udara tempat drone beroperasi serta mitigasi yang digunakan untuk mengurangi risiko tersebut. Lokasi penerbangan, ketinggian, jenis ruang udara, serta aktivitas penerbangan di sekitar area perlu diketahui sebelum drone diterbangkan.

Operational risk tidak hanya berasal dari drone itu sendiri.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain:
- kondisi cuaca,
- gangguan komunikasi,
- kondisi baterai,
- hambatan di lokasi,
- aktivitas manusia,
- ruang udara,
- kemampuan pilot,
- dan prosedur darurat.

Waktu terbaik untuk menemukan risiko adalah sebelum penerbangan dimulai. Flight Risk Assessment Tool (FRAT) menjelaskan bahwa penilaian risiko membantu pilot mengenali bahaya lebih awal, membedakan penerbangan berisiko rendah dan tinggi, serta menentukan langkah mitigasi sebelum membuat keputusan go atau no-go.

Dalam praktiknya, tidak semua risiko dapat dihilangkan sepenuhnya.
Hal yang dilakukan adalah mengidentifikasi risiko kemudian menerapkan mitigasi untuk menurunkannya ke tingkat yang dapat diterima. Mitigasi dapat berupa perubahan jalur penerbangan, menambah jarak dari manusia, menggunakan visual observer, menentukan area pendaratan darurat, membatasi ketinggian, atau memilih waktu penerbangan yang lebih aman.

Semakin kompleks sebuah misi, semakin penting proses penilaian risiko. Penerbangan BVLOS, operasi dekat manusia, penggunaan beberapa drone, maupun operasi khusus membutuhkan perencanaan keselamatan yang lebih mendalam. FAA bahkan mencantumkan Safety Risk Analysis sebagai kebutuhan pada sejumlah operasi kompleks. Artinya, kemampuan profesional seorang pilot bukan hanya terlihat dari keterampilan menerbangkan drone, tetapi juga dari kemampuannya mengenali dan mengelola risiko.

Tujuan akhirnya bukan membuat penerbangan tanpa risiko sama sekali, tetapi memastikan risiko sudah dipahami dan dikelola sebelum operasi dimulai. Pusat Pelatihan Drone Indonesia dapat mempelajari perencanaan penerbangan, identifikasi hazard, risk assessment, mitigasi risiko, hingga prosedur darurat sehingga keputusan penerbangan tidak hanya berdasarkan kemampuan perangkat, tetapi juga kondisi nyata di lapangan.